
tergopoh aku disamping waktu yang menjerit siang dan malam
dimana keluh kesah hidup ini yang selalu berhenti dipersimpangan
ku ketuk jendela hati setiap orang yang berlalu didepan muka ini
tanpa belas kasih terlihat jelas dari muka-muka itu
mereka jijik
mereka menjauh dari muka ini
muka yang penuh dengan debu dan daki
yang telah berminggu-minggu tak kena air apalagi sabun mandi
hanya karton-karton bekas ini teman hidup ku
istri ku pun entah dimana sekarang
sudah makan atau belum aku pun tak tahu
yang aku tahu aku masih saja mencintainya
meski dia pergi dengan lelaki lain tepat didepan hidung ku
aku dikhianati, aku dikangkangi
bahkan oleh istri ku sendiri
kejam memang keadaan ini
tapi aku tak perduli, toh aku masih mencintainya sampai sekarang
walau raganya tak lagi disamping ku
karena ku telah berjanji dulu untuk selalu mencintai dia bagaimanapun juga keadaannya
ketika pak penghulu berkata “saya terima nikahnya ini binti itu dengan mas kawin sekian-sekian”
itu bukan cuma janji antara aku sama dia
tapi juga janji antara aku sama tuhan
jadi janji yang harus tetap aku pegang gimanapun sulitnya
ah…….. cinta memang aneh kalau sudah begini
dulu aku begitu bahagia tapi sekarang…..
entahlah………..
ku rebahkan kembali badan ini
dikarton bekas kardus mie rebus merk indomie
ku serah dan pasrahkan jiwa raga ini kepada-Nya
ku berharap masih bisa bertemu istriku walau cuma dalam mimpi
mimpi ku
angan ku
harap ku
cintaaaaaa ku


Inilah duniaku, dunia yang aneh menurutku
ah aku memang bukan siapa-siapa





























































